Ekspektasi 20, Realita 23.
Jika aku yang berusia 20 tahun bisa melihat diriku saat ini, mungkin dia akan terdiam. Dulu, kepalaku penuh dengan rencana indah: di usia 23, aku seharusnya sudah menyandang gelar sarjana, bekerja sesuai rencana, dan menatap masa depan dengan pasti. Tapi realitas hari ini menampar telak. Alih-alih merayakan pencapaian, aku bahkan tidak tahu apakah besok aku masih punya waktu untuk melihat matahari pagi. Satu tahun ke belakang adalah salah satu masa tergelap dalam hidupku. Kuliahku kacau, mandek di tengah jalan. Masalah datang silih berganti, menghantam tanpa jeda seolah tak ada habisnya. Orang-orang yang paling kupercayai mengkhianati kepercayaanku dengan cara paling keji—menikam jantungku tepat di depan pelupuk mataku sendiri. Aku hanya bisa diam, bertahan dengan napas yang tersengal, mengerahkan sisa bara di jiwa hanya untuk menyambung hidup satu hari lagi. Tahun lalu rasanya aku masih punya harapan, tapi sekarang aku bangun setiap pagi dengan kepala terangkat namun jiwa yang linglun...