Ekspektasi 20, Realita 23.

Jika aku yang berusia 20 tahun bisa melihat diriku saat ini, mungkin dia akan terdiam. Dulu, kepalaku penuh dengan rencana indah: di usia 23, aku seharusnya sudah menyandang gelar sarjana, bekerja sesuai rencana, dan menatap masa depan dengan pasti. Tapi realitas hari ini menampar telak. Alih-alih merayakan pencapaian, aku bahkan tidak tahu apakah besok aku masih punya waktu untuk melihat matahari pagi.

Satu tahun ke belakang adalah salah satu masa tergelap dalam hidupku. Kuliahku kacau, mandek di tengah jalan. Masalah datang silih berganti, menghantam tanpa jeda seolah tak ada habisnya. Orang-orang yang paling kupercayai mengkhianati kepercayaanku dengan cara paling keji—menikam jantungku tepat di depan pelupuk mataku sendiri. Aku hanya bisa diam, bertahan dengan napas yang tersengal, mengerahkan sisa bara di jiwa hanya untuk menyambung hidup satu hari lagi. Tahun lalu rasanya aku masih punya harapan, tapi sekarang aku bangun setiap pagi dengan kepala terangkat namun jiwa yang linglung.


Orang-orang, bahkan dokter, mencoba memberitahuku bahwa ini hanya sebuah "fase". Sial, aku ragu harus mengatakannya, tapi akan kukatakan saja: Ini bukan sekadar fase. Aku hanya ingin merasa baik-baik saja. Apakah permintaan itu terlalu berlebihan?

Aku bergulat dengan depresi, tapi pertanyaan itu terus menghantui: Apakah ini stres pascatrauma, atau aku hanya sedang menekan amarah yang meluap? Rasanya aku seperti tikus yang terjebak dalam labirin. Aku berlari kencang, berusaha menjaga kecepatan stabil, tapi aku tidak ke mana-mana. Setiap kali aku berhasil merobohkan satu dinding, ternyata itu hanyalah dinding yang segera tergantikan oleh dinding baru.


Bagaimana aku bisa melarikan diri jika aku tidak pernah bisa menutup luka lama?


Tuhan, rasanya aku terus tertekan. Setiap detik yang terbuang terasa menakutkan, seolah aku membuang berkah yang tak sanggup kuraih. Ada saat-saat di mana aku harus berbohong, mengatakan pada dunia bahwa "semuanya baik-baik saja," padahal setiap hari aku merasa makin dekat dengan liang lahat. Aku ketakutan.

Jujur saja, rasanya setiap hari aku sudah siap untuk mati—siap untuk "bangkit bersama Yesus di hari ketiga". Aku lelah. Namun, tepat di penghujung tahun yang melelahkan ini, di titik nadir keputusasaan ku, aku menemukan secercah cahaya baru. Melalui Bunda Maria, aku merasa sedang dituntun perlahan kembali menuju Putra-Nya. Aku tidak tahu apakah ini hanya fatamorgana—seperti harapan-harapan palsu sebelumnya—atau ini benar-benar jalan baru dari-Nya agar aku kembali hidup, berbuat, dan bernubuat. Tapi untuk saat ini, aku akan mencoba memegang cahaya itu.

Komentar

Postingan Populer